Berikut ini beberapa sisi gelap New Zealand yang wajib diketahui. Selandia Baru sering kali dipandang sebagai Negara Teraman untuk Solo Travel dan negara yang damai, hijau, dan memiliki kualitas hidup yang tinggi. Dengan pemandangan alam yang menakjubkan, sistem pendidikan yang baik, dan pemerintahan yang stabil, negara ini menjadi destinasi impian bagi banyak orang. Namun, di balik citra positifnya, Selandia Baru juga menghadapi berbagai masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan yang perlu diperhatikan.
1. Krisis Perumahan dan Tunawisma
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi Selandia Baru adalah krisis perumahan. Harga rumah, terutama di kota besar seperti Auckland, Wellington, dan Christchurch, sangat tinggi dan tidak terjangkau oleh banyak warga lokal. Kenaikan harga properti ini dipicu oleh spekulasi, investasi asing, serta pasokan perumahan yang terbatas. Akibatnya, banyak orang yang harus menyewa dengan harga mahal atau bahkan kehilangan tempat tinggal.
Jumlah tunawisma di Selandia Baru cukup tinggi dibandingkan dengan negara maju lainnya. Beberapa orang terpaksa tinggal di mobil, garasi, atau motel darurat yang disediakan pemerintah. Meskipun pemerintah telah berupaya mengatasi masalah ini, pertumbuhan populasi dan tingginya biaya hidup membuat permasalahan ini semakin sulit diselesaikan.
2. Rasisme dan Diskriminasi terhadap Māori dan Imigran
Meskipun dikenal sebagai negara multikultural, diskriminasi rasial masih terjadi di Selandia Baru. Penduduk asli Māori sering mengalami ketidakadilan dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan. Tingkat pengangguran dan kemiskinan di kalangan Māori lebih tinggi dibandingkan kelompok lain, sementara akses mereka terhadap pendidikan dan perawatan kesehatan masih kurang optimal.
Selain itu, imigran dari Asia, Timur Tengah, dan Kepulauan Pasifik juga menghadapi diskriminasi. Beberapa warga lokal menuduh mereka sebagai penyebab kenaikan harga rumah dan peningkatan persaingan kerja, meskipun banyak dari mereka yang bekerja di sektor esensial seperti kesehatan dan teknologi.
3. Kejahatan dan Geng Kriminal
Selandia Baru memiliki sejarah panjang terkait aktivitas geng kriminal. Geng terkenal seperti Mongrel Mob dan Black Power memiliki pengaruh kuat dalam dunia kejahatan. Mereka terlibat dalam perdagangan narkoba, pemerasan, kekerasan antar-geng, dan kejahatan terorganisir lainnya.
Kejahatan dengan senjata api juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun Selandia Baru memiliki undang-undang senjata yang ketat, perdagangan senjata ilegal masih marak, terutama di lingkungan geng.
4. Tingginya Angka Bunuh Diri dan Masalah Kesehatan Mental
Selandia Baru memiliki salah satu tingkat bunuh diri tertinggi di dunia, terutama di kalangan anak muda dan komunitas Māori. Faktor-faktor seperti tekanan ekonomi, isolasi sosial, dan stigma terhadap masalah kesehatan mental berkontribusi terhadap tingginya angka ini.
Banyak orang yang mengalami gangguan kesehatan mental kesulitan mendapatkan bantuan karena keterbatasan layanan kesehatan mental. Meskipun pemerintah telah meningkatkan pendanaan untuk sektor ini, masih banyak masyarakat yang enggan mencari bantuan karena stigma sosial yang melekat.
5. Dampak Lingkungan dari Industri dan Pariwisata
Selandia Baru dikenal sebagai negara hijau dan ramah lingkungan, tetapi kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Industri peternakan, terutama sapi perah, telah menyebabkan pencemaran air dan deforestasi besar-besaran. Limbah peternakan sering mencemari sungai dan danau, mengancam kehidupan ekosistem air tawar.
Selain itu, pariwisata yang berlebihan juga menimbulkan masalah lingkungan. Banyak destinasi wisata terkenal mengalami erosi dan kerusakan akibat lonjakan jumlah wisatawan. Jejak karbon dari industri pariwisata, termasuk penerbangan internasional dan transportasi darat, juga bertentangan dengan citra negara yang ramah lingkungan.
Itulah sisi gelap New Zealand. Di balik keindahan alam dan citra positifnya, Selandia Baru menghadapi berbagai tantangan serius. Dari krisis perumahan, diskriminasi rasial, hingga masalah kesehatan mental dan lingkungan, banyak aspek yang masih perlu diperbaiki. Meskipun pemerintah terus berupaya mengatasi masalah-masalah ini, solusi jangka panjang membutuhkan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.